BRALING.CO, PURBALINGGA – Ratusan keramik yang menjadi koleksi Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja Purbalingga, diduga ada yang erasal dari era Dinasti Ming.

Selain itu, ada juga sejumlah keramik yang diprediksi berasal dari wilayah Vietnam dan ada pula yang jenis earthenware.

“Keramik di Museum Soegarda ini beragam. Ada yang berasal dari era Dinasti Ming, keramik Vietnam sampai jenis earthenware,” ungkap Ketua Tim Archapala, Agra Bayu Rahadi, S.S, M.A.

Museum Soegarda Poerbakawatja bekerjasama dengan tim arkeolog dari Yogyakarta tersebut untuk melakukan kajian informasi detail mengenai koleksi keramik di museum Purbalingga ini.

museum-soegarda-purbalingga  Keramik Koleksi Museum Soegarda Poerbakawatja Diduga Berasal dari Tiongkok dan Vietnam WhatsApp Image 2022 12 02 at 15

Kegiatan kajian koleksi ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Non-Fisik Museum dan Taman Budaya 2022.

Yang mana, tim ahli arkeologi melakukan kajian pada Oktober sampai November 2022 kemarin.

“Dari seluruh koleksi, secara pribadi saya suka lihat wadah besar yang berusia tua dengan motif pecah seribu.”, kata Agra ketika melakukan melakukan pendokumentasian koleksi.

Kajian ini akan mampu menghasilkan data terkait asal, motif, warna, gaya, bahan sampai era dari suatu keramik.

Data itu, lanjut Agra, dapat memperkaya pengetahuan, baik bagi pengelola maupun pengunjung museum.

Memudahkan Informasi.

Hasil analisa akan memudahkan masyarkat mengetahui informasi lengkap tentang koleksi keramik di Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja.

Apalagi, koleksi keramik ini selalu menarik perhatian orang, ketika datang ke Museum Soegarda.

“Selama ini, informasi keramik yang dimiliki baru sebatas dugaan jika keramik ini berasal dari Cina dan Eropa,” kata Humas Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja, Puji Sulistianto.

Sebagai informasi, sekarang ini, Museum Prof. Dr. R. Soegarda Poerbakawatja memiliki 104 keramik.

Dua diantaranya, jelas Puji Sulistianto, adalah hibah masyarakat. Sehingga, masih berstatus calon koleksi.

Hibah koleksi ini dinilai sebagai salah satu pertanda masyarakat kian peduli untuk menyumbangkan koleksinya guna kepentingan pengetahuan.