BRALING.CO, PURBALINGGA – SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga terus memperkuat kualitas lulusan SMK yang match dengan kebutuhan dunia usaha. Baik dari aspek hard skill maupun soft skill.

Salah satu upayanya SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga ialah dengan merancang kurikulum pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan Dunia Usaha, Dunia Industri dan Dunia Kerja atau DUDIKA.

“Harapannya, SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga mampu menciptakan lulusan yang semakin kompeten sesuai kebutuhan dunia usaha, dunia industri dan dunia kerja,” kata Kepala SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga, Suharti SAg MM kepada Braling.

Baca: SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga Lawan Tindakan Bullying di Sekolah

Untuk mewujudkan kurikulum terbaik, SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga menggelar Workshop Penjajakan dan Penguatan Kerjasama sekolah dengan DUDIKA SMK Pusat Keunggulan, 14 September 2021.

Sebagai informasi, SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga merupakan salah satu Sekolah Menengah Kejuruan Pusat Keunggulan (SMK-PK) di Jawa Tengah.

Workshop yang menghadirkan Ketua MKKS SMK Muhammadiyah se-Indonesia, Drs H Riswanto MPd tersebut digelar untuk menyelaraskan visi dan misi pendidikan vokasi dengan duduk bersama dengan DUDIKA.

Kemudian, untuk membuka diskusi terbuka tentang kebutuhan kompetensi yang diinginkan oleh DUDIKA sehingga SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga mampu menghasilkan lulusan yang kompeten di bidangnya.

Riswanto menjelaskan, upaya mewujudkan keselarasan antara SMK dengan dunia kerja dapat ditempuh melalui pemenuhan delapan aspek link and match.

smk muhammadiyah 1 purbalingga siap kerja smk muhammadiyah 1 purbalingga SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga Kuatkan Kurikulum Demi Lulusan yang Sesuai Kebutuhan Dunia Kerja WhatsApp Image 2021 09 14 at 12

Delapan Aspek Link and Match SMK dan DUDIKA.

Pertama, kurikulum disusun bersama sejalan dengan penguatan aspek softskills, hardskills dan karakter kebekerjaan sesuai kebutuhan dunia kerja.

Kedua, pembelajaran diupayakan berbasis project riil dari dunia kerja untuk memastikan hardskills, softskills, dan karakter yang kuat.

Ketiga, peningkatan jumlah dan peran guru/instruktur dari industri maupun pakar dari dunia kerja. Meningkat secara signifikan sampai minimal mencapai 50 jam/semester/program keahlian.

Keempat, praktik kerja lapangan/industri minimal satu semester. Kelima, bagi lulusan dan bagi guru/instruktur sertifikasi kompetensi harus sesuai dengan standar dan kebutuhan dunia kerja.

Selanjutnya yang keenam, jelas Riswanto, bagi guru/instruktur perlu ditekankan untuk memperbarui teknologi melalui pelatihan secara rutin.

Ketujuh, dilakukannya riset terapan yang mendukung teaching factory berdasarkan kasus atau kebutuhan riil industri. Kedelapan, komitmen serapan lulusan oleh dunia kerja.

Riswanto meminta SMK Muhammadiyah 1 Purbalingga bisa menerapkan delapan aspek link and match dengan DUDIKA tersebut dalam kurikulum pembelajarannya.