BRALING.CO, PURBALINGGA – Setidaknya ada dua tantangan utama bagi seorang guru dalam mewujudkan semangatnya menulis buku. Yakni zona nyaman dan keterbatasan waktu.

Sejak lama, guru hanya ditugaskan untuk fokus mengajar di kelas. Tidak ada tuntutan profesional untuk berkarya menghasilkan sebuah buku.

Baca: Lomba Perpustakaan Jawa Tengah, Purbalinga Masuk 2 Kategori Penilaian

Kondisi ini pada akhirnya menjadi zona nyaman bagi para guru. “Zona nyaman ini sudah terjadi bertahun-tahun,” kata Triawati Agusnila, Guru SMA Negeri 1 Bobotsari.

Sementara soal keterbatasan waktu, Triawati Agusnila menjelaskan bahwa, aktivitas mengajar hingga sore serta kesibukan mengurus keluarga di rumah sangat menyita waktu keseharian seorang guru.

“Tantangannya memang internal gurunya sendiri. Kalau nggak ada kemauan luar biasa, memang jadi berat untuk menulis buku,” kata Agusnila yang juga Kepala Perpustakaan “Surya Cendikia” SMA Negeri 1 Bobotsari.

Mendorong Guru Lebih Kreatif Berkarya.

Perpustakaan “Surya Cendikia” SMA Negeri 1 Bobotsari berupaya mengurai kondisi itu dengan menggelar Pelatihan Best Practice dan Penulisan Buku. Workshop virtual skala nasional itu dengan 170 peserta dari Purbalingga, Banyumas, Riau, Gorontalo, Bali hingga NTT ini dilaksanakan pada 7 Juni 2021.

Pematerinya Triawati Agusnila (Penulis Buku Best Practice & Guru Berpestasi Kabupaten Purbalingga), Nining Mariyaningsih (Penulis Buku Best Practice dan Guru Berprestasi Nasional) dan Mistina Hidayati (Guru Berprestasi Kabupaten Banyumas).

Workshop virtual ini merupakan salah satu program dari Perpustakaan “Surya Cendikia”. Yakni Literasi Masyarakat Berbagi Ilmu atau Limas Berilmu.

“Kami menyasarnya masyarakat luas, namun karena kami di lingkungan pendidikan, jadi kebanyakan pesertanya guru dan pustakawan,” kata Agusnila kepada Braling.

guru menulis buku purbalingga  Ini Tantangan Utama Guru Ketika Ingin Menulis dan Menerbitkan Buku WhatsApp Image 2021 06 07 at 20

Budaya Menulis bagi Guru dan Pustakawan.

Dalam workshop tersebut, peserta diajak untuk menulis buku. Mulai dari cara menemukan dan mengolah ide menjadi sebuah buku.

“Kami berupaya mendorong adanya pemberdayaan teman-teman guru untuk menulis. Karena menulis buku itu bermanfaat bagi guru dan budaya literasi di sekolah,” kata Agusnila menambahkan.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan (Dinarpus) Purbalingga, Jiah Palupi Twihantarti meminta guru maupun pustakawan harus bisa menghadapi tantangan di masa kini. Salah satunya dengan menulis buku.

Menurut Jiah, meskipun menulis buku mungkin diawali dengan rasa terpaksa, namun jika dibiasakan, menulis buku bisa menjadi budaya yang sangat bagus bagi guru dan pustakawan.