BRALING.CO, PURBALINGGA – Penyebaran Islam di Purbalingga telah tumbuh subur, sebelum era Wali Sanga. Eksistensi Perdikan Cahyana merupakan buktinya.

Kerajaan Demak sebagai Kesultanan Islam pertama di Pulau Jawa bahkan telah mengakui kehadiran Perdikan Cahyana.

Sultan Pertama Kerajaan Demak, Raden Patah memberikan “Serat Kekancingan” yang mengakui Cahyana sebagai daerah perdikan bebas pajak.

“Diteruskan oleh Kasultanan Pajang, Mataram sampai Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta,” ujar Gunanto Eko Saputro, penulis sejarah.

Baca: Di Watu Geong, Bersemayang Senjata Pandawa

Gunanto mengulik Perdikan Cahyana dalam Ngaji Bareng bertema “Cerita Cinta dan Penyebaran Islam di Purbalingga”, di Kedai Pojok, 30 April 2021.

Raden Patah memberikan Serat Kekancingan tersebut kepada Syech Makdum Wali Perkasa pada tahun 1403 Saka atau 1481 Masehi. Syech Makdum Wali Perkasa membantu membangun Kesultanan Demak.

“Syech Makdum Wali Perkasa membuat ‘saka tatal’ Masjid Agung Demak yang legendaris bersama Sunan Kalijaga,” kata Gunanto.

Informasi terkait Perdikan Cahyana ada dalam Babad Cariyosipun Redi Munggul. Raden Patah mengenali Syech Wali Perkasa berasal dari Cahyana Karabal Minal Muslimin.

Nama “perkasa” melekat pada Syech Makdum Wali Perkasa yang juga pemimpin Perdikan Cahyana itu, karena ia berhasil meluruskan tiang Masjid Agung Demak yang doyong.

“Syech Makdum Wali Perkasa adalah tokoh historis yang membuktikan eksistensi sebuah perdikan, pusat penyebar Agama Islam di Purbalingga yang sudah eksis di abad ke 14-15, satu era dengan para Wali Sanga,” ujar Gunanto.

Teks Surat Kekancingan tentang Cahyana.

Surat Kekancingan kemudian disalin peneliti Belanda sekaligus Aspirant Controleur bernama Catharinus Johanes Hasselman pada 1887.

Catharinus Johanes Hasselman menuliskannya dalam karya “De Perdikan Dessa’s in Het District Tjahijana; Tijdschrift voor het Binnenland Bestuur” berbunyi:

“Penget lajang kang idi Pangeran Sultan ing Demak. Kagaduha dening Mahdum Wali Prakosa ing Tjahjana. Mulane anggaduha lajang Ingsun dene angrowangi amelar tanah, sun tulusaken Pamardikane pesti lemah Pamardikane Allah, tantaha ana angowahana ora sun wehi suka halal dunja aherat. Anaha anak putu aba aniaja. Mugaha kena gutukking Allah lan oliha bebenduning para Wali kang ana ing Nusa Djawa. Estu jen Peperdikaning Allah. Titi”

Surat Kekancingan menjadi bukti kehadiran Perdikan Cahyana di era Kasultanan Demak, Pajang, Mataram sampai Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.

Padahal, Syeh Wali Perkasa merupakan canggah alias keturunan keempat dari Pangeran Munding Wangi yang merupakan pendiri Cahyana.

Silsilah Singkat Tokoh Pendiri Perdikan Cahyana.

Teks “Cariyosipun Redi Munggul” menceritakan Raden Munding Wangi merupakan pangeran dari Kerajaan pajajaran yang menghindari hiruk-pikuk kehidupan bangsawan dan menyepi sampa di wilayah Cahyana.

Raden Munding Wangi diislamkan oleh tokoh bernama Syekh Atas Angin dan berganti nama menjadi Syech Jambu Karang.

Kemudian, Syech Atas Angin menikah dengan Rubiah Bekti yang merupakan anak dari Syech Jambu Karang.

Mereka menurunkan tiga orang putra dan dua orang putri yaitu Syekh Makhdum Husein (Makamnya di Desa Rajawana, Karangmoncol Purbalingga).

Kemudian, Syekh Makhdum Madem (makamnya di Cirebon), Syekh Makhdum Omar (makamnya di Pulau Karimun Jawa), Nyai Rubiah Raja (makamnya di Ragasela, Pekalongan), Nyai Rubiah Sekar (dimakamkan di Jambangan, Banjarnegara).

Baca: Braen, Kesenian Khas Rajawana Bernilai Luhur

Syekh Makhdum Husen berputra Syekh Makdum Jamil yang menurunkan dua putra. Syekh Makdum Tores (dimakamkan di Bogares, Tegal) dan Syekh Makdum Wali Prakosa (dimakamkan di Masjid Besar Pekiringan, Karangmoncol Purbalingga).

“Jadi kalau berdasarkan cerita tersebut, Islam berarti sudah masuk sejak era Syeh Jambu Karang yang berdasarkan berbagai sumber hidup pada era 1100 Masehi,” kata Gunanto.

“Dengan demikian, Islam masuk ke Purbalingga sejak awal penyebarannya di Tanah Jawa,” katanya menambahkan.

perdikan cahyana purbalingga perdikan cahyana Perdikan Cahyana, Bukti Penyebaran Islam di Purbalingga yang Diakui Kasultanan Demak hingga Kasultanan Yogyakarya WhatsApp Image 2021 05 01 at 07

Sejarah Purbalingga yang Melintasi Zaman.

Sementara itu, Muhamad Kholik, pendiri Griya Petualang Indonesia di agenda Ngaji Bareng menilai bahwa fakta-fakta tentang Perdikan Cahyana tersebut cukup membanggakan.

Sebab, Purbalingga sudah memiliki pusat penyebaran Islam yang cukup dikenal dan diakui oleh pusat-pusat pemerintahan selama beratus tahun.

“Sekarang menjadi kewajiban kita untuk meneruskan cerita dan cinta penyebaran Islam di Purbalingga,” kata Muhamad Kholik.

Sebagai tanah perdikan, Cahyana di Purbalingga mampu bertahan melintas zaman selama sekitar 465 tahun dari 1403 S atau 1481 M sampai dengan 1946 M.

Wilayah Perdikan Cahyana Saat Ini.

Status Tanah Perdikan dihapuskan Pemerintah Republik Indonesia melalui UU No 13 Tahun 1946 tentang Penghapusan Desa-Desa Perdikan tertanggal 4 September 1946.

Dalam keterangan pers yang diterima Braling, Perdikan Cahyana memiliki wilayah hingga 21 desa yaitu Grantung Andap, Grantung Kudil, Grantung Gerang, Grantung Lemah Abang, dan Grantung Kauman.

Wilayah Perdikan Cahyana juga mencakup Pekiringan Kauman, Pekiringan Lama, Pekiringan Anyar, Pekiringan Bedhahan, Tajug Lor, Tajug Kidul, Rajawana Lor, serta Rajawana Kidul.

Kemudian, termasuk juga Makam Wadhas, Makam Bantal, Makam Tengah, Makam Dhuwur, Makam Kidul, Makam Jurang, Makam Panjang dan Makam Kamal.

Kini, wilayah dari Perdikan Cahyana sudah menjadi lima desa. Pekiringan, Grantung, Tajug, Rajawana dan Makam. Dan, masuk wilayah Kecamatan Karangmoncol dan Rembang