BRALING.CO, JAKARTA – Penyelenggara pemilu, calon kepala daerah serta partai politik masih menyia-nyiakan partisipasi dan potensi suara anak muda dalam kancah politik.

Padahal, jika merunut pada Data Pemilih Tetap pada Pemilu 2019, diketahui bahwa pemilih muda yang memiliki rentang usia 17-30 tahun jumlahnya sekitar 60 juta orang atau sekitar 31 persen dari total pemilih.

Selain itu, mereka juga memiliki karakteristik calon pemimpin yang jelas dan konkret. Sehingga akan lebih mudah untuk berebut suara pemilih muda.

Baca: Kemendikbud RI Bersiap Bikin Platform Digital Film dan Musik, Ini Kunci Keberhasilannya

Survei daring “Harapan dan Persepsi Anak Muda dan Pilkada” yang dirilis 24 November 2020 oleh koalisi organisasi masyarakat sipil menunjukkan bahwa potensi suara anak muda dan partisipasi politik mereka belum secara optimal diakomodir.

Warga Muda, Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem), Campaign.com dan Golongan Hutan difasilitasi Change.org Indonesia melaksanakan jajak pendapat online tersebut.

Tujuan survei ini untuk mengetahui bagaimana pengetahuan, antusiasme, dan pentingnya Pilkada dari sudut pandang anak muda yang telah memiliki hak pilih, serta isu-isu yang menjadi minat dan perhatian pemilih pemula.

Mayoritas responden survei (82%) adalah anak muda di rentang usia 17-30 tahun yang merupakan warga muda aktif pengguna media sosial. Survei diadakan selama 1 bulan antara 12 Oktober-10 November 2020.

Jajak pendapat yang diikuti 9,087 responden di 34 provinsi, menemukan meski mayoritas anak muda mengetahui adanya Pilkada di daerahnya. Akan tetapi mereka tidak mengetahui dan tidak yakin mengenai calon-calon kepala daerah. Termasuk dengan rekam jejak calon kepala daerah.

“Ini merupakan tanda bahaya, karena dapat diartikan, anak muda masih kurang peduli dengan calon pemimpin di daerah mereka. Atau yang terjadi sebaliknya, calon pemimpin daerah memang masih begitu berjarak dengan pemuda-pemudi di daerahnya sendiri,” kata Wildanshah, Komisaris dari Warga Muda.

“Ini bisa jadi akibat kurangnya interaksi, sosialisasi, kontribusi, dan kolaborasi antara pemimpin daerah bersama komunitas-komunitas anak muda di daerahnya,” imbuh Wildanshah.

partisipasi politik dan potensi suara anak muda masih disia-siakan di pilkada, sayang sekali! Partisipasi Politik dan Potensi Suara Anak Muda Masih Disia-siakan di Pilkada, Sayang Sekali! WhatsApp Image 2020 11 24 at 18

Karakter Pemimpin Idaman Pemilih Muda.

Mayoritas responden mendambakan karakter pemimpin yang memiliki visi pembangunan berkelanjutan yang seimbang antara ekonomi, sosial dan lingkungan (21%), responsif dan komunikatif terhadap suara masyarakat (21%), dan antikorupsi (16%).

“Anak muda dari setiap daerah menginginkan daerah mereka bersih dari praktik korupsi dan menjalankan hukum dan HAM dengan baik, serta dapat memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraan warganya, dan mempunyai fasilitas umum yang baik dan nyaman,” jelas Ahmad Aziz dari Campaign.com.

Pemilih muda menilai bahwa penting bagi anak muda untuk ikut memilih dan mengawal pemerintahan setelah pilkada, termasuk mengawasi kepala daerah terpilih agar memenuhi janji-janji kampanyenya.

“Salah satu hal menarik dari survei ini adalah 16% dari responden mengaku ingin bergabung dengan partai politik dan 26% mengaku ingin bergabung dengan organisasi kepemudaan, tetapi tidak tahu caranya,” kata Maharddhika dari Perludem.

“Ini menunjukkan adanya minat dan partisipasi politik yang cukup tinggi pada generasi muda tapi belum terfasilitasi dengan baik,” lanjut Maharddhika sembali menambahkan faktor kurangnya akses dan informasi politik sebagai penghambat partisipasi politik itu.

Sementara itu, mengenai penyelenggaraan pilkada 2020 pendapat responden masih cukup berimbang. Mereka yang menganggap Pilkada harus lanjut dengan protokol kesehatan yang ketat (41%) dan sedangkan yang ingin penundaan Pilkada karena masih pandemi covid-19 (37%).

Masalah Penting Bagi Pemilih Muda.

Survei online tersbeut juga mengungkapkan bahwa bagi pemilih pemula, masalah terbesar di daerah adalah masalah ekonomi dan kesejahteraan (42%). Mulai dari ketersediaan lapangan pekerjaan, tingginya tingkat pengangguran dan bantuan sosial yang tidak tepat sasaran.

Mereka juga menyermati tentang masalah infrastruktur (13%), penegakan hukum (11%), lingkungan (10%) dan pendidikan 9%.

Jika dilihat lebih dalam, responden yang berasal dari wilayah NTT dan Papua menganggap pendidikan sebagai masalah utama. Sedangkan untuk daerah urban, seperti Jakarta, merek perhatian pada isu ekonomi dan kesejahteraan serta penegakan hukum yang kurang baik.

Koordinator Golongan Hutan Edo Rakhman, anak muda juga menilai para pemimpin daerah memberikan solusi persoalan lingkungan. Mulai dari pengelolaan sampah dan limbah, pencemaran, pertanian dan perkebunan monokultur yang tidak berkelanjutan, kerusakan hutan serta ekosistem laut.

Tidak ketinggalan, 85% responden menganggap program tangguh bencana penting untuk diadopsi dalam visi misi program kandidat, termasuk strategi-strategi mitigasi kebencanaan khususnya untuk wilayah/daerah yang masuk dalam kategori rawan bencana.

Menurut mayoritas anak muda, lima masalah kebencanaan yang paling penting untuk diselesaikan adalah Pandemi Covid-19 dan wabah penyakit menular lainnya (24%), pencemaran air dan udara (21%), banjir dan longsor (15%).

Follow Up Hasil Survei.

Desma Murni, Direktur Kerjasama Change.org Indonesia mengatakan bahwa “tingginya partisipasi responden usia muda dalam menyuarakan kepeduliannya terkait pemilihan kepala daerah pada survei ini menjadi sebuah indikasi positif partisipasi politik mereka”.

“Namun tentunya aspirasi tersebut perlu didengar dan ditindaklanjuti oleh para pemegang kebijakan di daerahnya,” kata Desma menambahkan.

Calon kepala daerah yang ikut Pilkada semestinya dapat merangkul anak muda, bukan cuma sebagai konstituen atau target pengumpulan suara. Namun, kata Desma, juga mendengarkan suara dan melibatkan mereka sebagai mitra untuk membangun daerahnya.

Hasil survei daring tersebut rencananya bakal dipaparkan ke Kemendagri, Kemenpora dan KPU. Harapannya, mereka lebih responsif terhadap aspirasi generasi muda dalam penyelenggaraan pilkada dan perencanaan pembangunan daerah.

“Kami juga berharap temuan-temuan dalam survei ini dapat digunakan calon kepala daerah untuk melibatkan anak muda dalam membangun daerahnya,” tambah Dhika