BRALING.CO, PURBALINGGA – Pemerintah Kabupaten Purbalingga masih terus berupaya untuk memangkas angka anak gagal tumbuh alias stunting atau kontet di Kabupaten Purbalingga.

Pemkab Purbalingga merancang sejumlah program untuk mengatasi stunting karena pemkab telah menargetkan angka stunting di Purbalingga bisa berada di bawah 20 persen pada tahun 2022 mendatang.

Sebagai informasi, apabila mengacu pada data Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga yang dirilis pada tahun 2019 kemarin, trend angka stunting terus menampilkan grafik menurun.

Angka stunting di Purbalingga pada tahun 2013 masih di 36,7 persen. Namun, secara berangsur-angsur prosentase itu terus menurun. Pada tahun 2016 hanya ada 28 persen. Dan kemudian pada tahun 2018 kembali menurun menjadi 26,4 persen.

Pada akhir tahun 2019, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga, drg Hanung Wikantono MPPM mengungkapkan Pemerintah Kabupaten Purbalingga memprioritaskan 10 desa dalam penanganan stunting.

Pembagian Paket Gemarikan.

Penanganan stunting di Kabupaten Purbalingga tidak hanya dilakukan oleh Dinas Kesehatan. Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Purbalingga juga aktif dalam program penanganan anak lahir pendek.

Dalam rangka penanganan stunting, DKPP Purbalingga menggandeng Tim Penggerak PKK (TP PKK) Kabupaten untuk melakukan Kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan atau Kampanye Gemarikan.

Kampanye tersebut dilakukan dengan membagikan paket Gemarikan kepada ibu hamil dan ibu menyusui di 9 desa yang ada di lima kecamatan. Paket bantuan Gemarikan tersebut berisi ikan segar dan olahan makanan berbahan dasar ikan.

Pjs Bupati Purbalingga Sarwa Pramana melakukan penyerahan simbolis paket gemarikan tersebut di balai Desa Klapasawit, Kecamatan Kalimanah, 20 Oktober 2020. Desa Klapasawit menerima 60 paket Gemarikan bagi ibu hami dan ibu menyusui.

Selain Desa Klapasawit, masing-masing desa lainnya hanya mendapatkan 55 buah paket gemarikan bagi ibu hamil dan ibu menyusui di desanya.

Baca: Masyarakat Purbalingga Antusias Ikut Tes PCR Gratis di Puskesmas, Sudah Ikut Tes Covid-19 Ini?

Kepala DKPP Purbalingga, Ir Sediyono menjelaskan, kegiatan pembagian paket Gemarikan merupakan kegiatan yang sudah terprogram di DKPP yang dikerjasamakan dengan TP PKK Kabupaten.

“Dari rencana program kegiatan dimiliki, tahun 2020 kegiatan pendistribusian paket gemarikan hanya bisa mencukupi 500 paket untuk 9 desa di 5 kecamatan,” Sudiono menjelaskan.

Kegiatan rutin ini dalam rangka meningkatkan gemar makan ikan warga masyarakat Purbalingga. Disamping memasyarakatkan menu makanan ikan sebagai makanan sajian keluarga, juga untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Purbalingga.

“Sekaligus di era pandemi ini sedikit banyak supaya warga masyarakat dengan makan ikan akan lebih kebal terhadap serangan penyakit dan mengarah pada pola hidup yang sehat,” kata Sudiono.

Sudiono menjelaskan bahwa pemilihan desa penerima bantuan gemarikan didasarkan pada jumlah anak stunting di desa tersebut sekaligus untuk mencegah adanya kasus stunting baru.

Sebelum kegiatan Gemarikan yang didanai APBD kabupaten, pada tahun 2019 kemarin, DKPP berkerjasama dengan Kementrian Kelautan Perikanan Republik Indonesia untuk membagikan 500 paket Gemarikan di 14 desa yang ada di 7 kecamatan.

Kerjasama tersebut tidak saja dengan kementrian kelautan, namun juga dilakukan kerjasama dengan Dinas Perikanan Provinsi Jawa Tengah.

“Pada tanggal 4 November mendatang, kembali akan melakukan kegiatan pemberian bantuan paket Gemarikan, kali ini kerjasama dengan Dinas Kelautan Perikanan  Provinsi.

“Kerjasama ini juga akan mengadakan kegiatan pemberian bantuan paket gemarikan sebanyak 100 paket di desa Candinata Kutasari,” ungkap Sediyono.

Perhatian Besar terhadap Kesehatan Keluarga.

Pjs Bupati Purbalingga Sarwa Pramana SH MSi berkata, program gemar makan ikan tidak terlepas dari angka kematian ibu dan anak. Tahun 2019 kemarin angka kematian ibu dan anak paling tinggi di Kabupaten Brebes, namun kemudian bergeser ke Kabupaten Grobogan.

Kata Sarwa, tingkat kemiskinan akan terkait erat dengan angka kematian ibu dan anak dan kelahiran stunting di daerah. Pemerintah sangat peduli akan kesehatan, utamanya ibu hamil yang akan melahirkan.

Menurut Sarwa, anak yang akan dilahirkan harus sehat dan cerdas, sehingga kondisi ibu hamil sampai menyusui harus terpantau kesehatannya. Oleh karenanya, menjadi PR bersama untuk menekan angka stunting.

“Menjadi PR kita bersama bagaimana membangun generasi yang cerdas dan bebas stunting, Jateng mempunyai program Jateng Gayeng. Program ini sangat bagus karena nampak bagaimana ‘memanage’ seorang ibu mulai dari hamil sampai melahirkan, dipantau secara rutin oleh tenaga kesehatan,” kata Sarwa.

Kepada tenaga medis khususnya yang ada di tingkat Puskesmas, Pjs Bupati Purbalingga meminta mereka supaya terus memberikan pelayanan terbaik, meskipun dari masyarakat yang tidak mampu di Kabupaten Purbalingga.