BRALING.COM, PURBALINGGA – Buat pecinta kopi yang ingin merasakan sensasi menyeruput kopi luwak liar khas kawasan hutan di utara Kabupaten Purbalingga, bisa langsung mencicipinya di Desa Kramat, Kecamatan Karangmoncol.

Beberapa waktu terakhir ini, petani kopi di wilayah utara Purbalingga itu sedang mengembangkan produk kopi luwak liar. Hal ini dipicu karena harga jual kopi luwak liar yang sangat menggiurkan.

“Jadi luwaknya ini bukan luwak peliharaan tetapi luwak yang masih berkeliaran di dalam hutan jadi mencari biji kopi dari kotoran luwaknya pun perlu kesabaran,” jelas Muhammad Faiz, pegiat kopi luwak liar “Sigotak” dari Desa Kramat.

Lokasi hutan di Desa Kramat masih cukup asri dan banyak dijumpai luwak liar. “Kotoran yang diambil yang masih segar dan tidak berbau justru wangi seperti aroma pandan,” kata Faiz.

Sebenarnya, pengolahannya tidak terlalu susah dan tidak jauh berbeda dengan kopi-kopi lainnya. Namun, pencarian kotoran luwak liar tidak mudah.

Petani kopi luwak liar harus menelusuri hutan yang masih dipenuhi semak belukar dan cukup jauh dari pemukiman warga. Faiz juga harus memetakan dimana lokasi luwak itu membuang kotorannya dan pohon-pohon kopi yang sudah berbuah matang.

“Kemampuan luwak ini akan mencari buah kopi yang sudah matang. Tapi memang tidak setiap hari bisa langsung mendapatkan kotoran luwaknya harus betul-betul sabar untuk mencarinya,” terang Faiz.

Dalam satu hari, Faiz biasanya mendapatkan paling sedikit satu ons kadang juga tidak mendapatkan. Jika dihitung dalam satu bulan perolehan kotoran luwak hanya berkisar 1-2 kg itu pun ketika sedang beruntung.

Setelah dijemur kurang lebih 10 hari, bijinya siap roasting. Faiz memasarkan produk kopi luwak liarnya dalam bentuk roastbean atau bubuk dengan harga Rp 100 ribu per 11 gram.

“Harga ini relatif cukup murah dibandingkan dengan Kabupaten Temanggung yang harga 100 gr berkisar Rp 300 ribu,” ungkap Faiz.

“Alhamdulillah Kopi Luwak Liar Sigotak sudah berlabel halal dan rasa kopinya sendiri lebih kental, legit dan rasa asamnya muncul karena kopi ini sudah melalui fermentasi secara alami dan tercampur dengan buah lain di hutan,” tutur Faiz.

Kepala Dinkop UKM Purbalingga, Budi Susetyono berkata, kopi luwak liar dari Desa Kramat ini bisa dikembangkan dengan baik. Apalagi saat ini sudah banyak bermunculan para pecinta kopi bahkan kedai-kedai kopi di wilayah Purbalingga.

“Tentunya ini menjadi peluang yang cukup baik untuk pegiat kopi Desa Kramat untuk bisa memasarkan dan mengembangkan produk Kopi Luwak Liar agar bisa tembus pasar nasional,” kata Budi.