BRALING.COM, PURBALINGGA – Penyakit thalassemia masih menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia. Penyakit ini belum ada belum ada obatnya, sehingga proses pencegahan merupakan cara utama yang bisa dilakukan untuk menekan pertumbuhan jumlah penderita thalassemia.

Thalassemia merupakan penyakit kelainan darah yang disebabkan faktor genetika dan menyebabkan protein yang ada di dalam sel darah merah tidak berfungsi normal. Kelainan bawaan pada sel darah ini menyebabkan sel darah merah mudah hancur.

Staf Ahli dari Dinas Kesehatan Purbalingga untuk Perhimpunan Orangtua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI) Purbalingga, dr Ardian Budikusuma, SpA, MKes  berkata, salah satu pencegahan yang bisa dilakukan ialah dengan menghindarkan pernikahan sesama pembawa thalasemia minor.

“Untuk memutus mata rantai thalassemia ini yang bisa dilakukan adalah cek darah sebelum menikah, dokter sangat menganjurkan agar sesama pembawa sifat thalassemia tidak menikah, karena kemungkinan besar akan menghasilkan anak dengan thalassemia mayor,” kata dr Adrian.

“Tetapi tentu saja pada akhirnya diserahkan kepada yang bersangkutan,” imbuh dr Adrian ketika berbicara di Perkemahan Penyandang Thalassaemia (Thaler Camp) POPTI Purbalingga, di Desa Wisata Serang Kecamatan Karangreja, pertengahan Februari 2020 lalu.

Ia juga berkata bahwa peran keluarga sangat penting bagi penyandang thalassemia. “Untuk itu, keluarga haruslah memberikan tindakan positif terhadap thaler yang memungkinkan penderita akan termotivasi dan bersemangat,” ucap dr Adrian.

Sementara itu, Ketua Umum POPTI Purbalingga, Akhmad Khamid Supriyono berkata, para penyandang thalassemia atau thaler perlu bimbingan untuk mengembangkan potensi diri, agar memiliki kepercayaan diri, mampu mandiri, berkarya dan berprestasi.

“Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan mengeksplorasi kecerdasan melalui kegiatan bersama. Walaupun, para thaler di lingkungan masing-masing tentu sudah memiliki kegiatan secara pribadi maupun secara kelompok,” tuturnya.

Ketua Panitia Thaler Camp, Toto Endargo, S.IP menuturkan, kegiatan camp ini melibatkan setidaknya 57 anak penyandang Thalassaemia usia remaja dan 23 orang relawan pendamping. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan kemandirian thaler, kepercayaan diri serta meningkatkan keterampilan bekerjasama dan bersosialisasi antar thaler.

“Kegiatan ini berbentuk teori dan praktek, dengan materi mengenai ke-thalassaemia-an dan kegiatan rekreatif. Harapannya, setelah mengikuti kegiatan ini mereka ada peningkatan dalam hal kepercayaan diri, kemandirian, mampu berkarya dan lebih berprestasi,” tuturnya

Dalam  Thaler Camp ini banyak presentasiv tentang penyebab thalassaemia dan dua jenis thalassaemia. Presentasi obat pengikat (kelasi) besi, manfaat dan risiko jika tidak mengkonsumsi dan presentasi tentang risiko perkawinan antar thaler dan cara pencegahan.

Di kegiatan ini juga diperkenalkan olahraga Thalelong yang merupakan singkatan dari thalassaemia, lempar dan kolong. Toto berharap Thalelong terus berkembang dari Purbalinggta ke berbagai penjuru tanah air. “Karena, thalelong merupakan satu kreatifitas warga Purbalingga,” kata Toto.